Posted by odie in Lounge, Mitos & Budaya | 11 comments
Pemilihan Putra-Putri Pariwisata (Papipar) Kalteng
Decak kagum dan riuh rendah tepuk tangan tak henti-hentinya terdengar dari ratusan mata yang menyaksikan mereka. Meski masih belia, jangan pernah menyangsikan kemampuan duta-duta daerah Bumi Tambun Bungai. Tidak hanya fisik, intelegensi yang dimiliki juga di atas rata-rata.
Lenggang-lenggok gemulai mengawali penampilan mereka di atas catwalk, saat parade busana daerah sebelum memasuki acara inti unjuk bakat digelar. Semua tampak terlatih dan percaya diri. Senyum tersungging di bibir, mengiringi setiap gerak-gerik mereka. Seakan-akan tiap hentakan kaki mengandung daya tarik tersendiri.
Diiringi alunan musik yang begitu menggelegar, kian memacu adrenalin peserta agar dapat tampil maksimal dalam ajang tersebut. Tak heran, tebar pesona yang dilakukan untuk memikat hati yang menyaksikan, selalu diumbar tanpa putus-putusnya.
Saat para peserta mempromosikan diri dengan menggunakan bahasa Dayak daerah masing-masing, suasana heboh penonton makin menjadi. Pengunjung mengelu-elukankan jagoannya masing- masing. Tarian daerah yang ditampilkan mencerminkan identitas daerah peserta, lebih menambah semarak suasana malam unjuk bakat.
Bising memang, tapi di situlah letak kekhasan tiap kali menyaksikan ajang ini, karena Papipar merupakan kegiatan yang ditunggu rangkaian Festival Budaya Isen Mulang dan Kalteng Expo. Meski malam semakin larut, namun penonton justru bertambah banyak.
Dari penampilan 10 pasang peserta dari kabupaten/kota, ada beberapa dari mereka yang bisa menghipnotis penonton dengan tarian yang disajikan. Pasangan tampil kompak habis-habisan meski beban mental yang dirasa sangat besar.
Peserta asal Kabupaten Murung Raya yang tampil dengan busana adat beberapa lambang, memiliki makna secara implisit, telawang mencerminkan kekokohan dalam pertahanan dan keamanan suku Dayak.
Kemudian taring, menggambarkan jimat yang dipercaya bisa memberikan perlindungan, dipadu burung tingang cerminan keunikan dan keheterogenan. Dengan busana warna merah mendeskripsikan rasa keberanian tinggi, pantang menyerah dan tak pernah gentar dala menghadapi sesuatu.
Busana yang dikenakan merefleksikan orang Dayak yang berani, memiliki integritas tinggi, menjunjung rasa kesederhanaan, gigih dalam berjuang serta memiliki keunikan tersendiri.
Sementara, peserta putri dari Palangka Raya mengenakan busana adat Sinjang berwarna merah bermotif lawang suri. Dengan kalambi dari kulit kayu dihiasi dengan kaneing dan payet warna merah, ditambah aksesori dari tulang dan anting panjang, peteng dan bulu haruei.
Sedangkan putranya, berbalut sangkarut kulit kayu nyamuh dihiasi kaneing, dipercaya dapat melindungi tubuh dari bahaya serangan musuh dari racun roh jahat.
Beta Cantauri dan Andi Nazier dari Palangka Raya yang ditemui usai acara mengatakan, persiapan dilakukan dengan berlatih menambah kekompakan satu sama lain, dan menguasai ego masing-masing sehingga bisa menyatukan dua kepala. Hanya satu tujuan, bukan saja atas nama Palangka Raya, tetapi juga Kalteng.
Mereka berharap bisa terpilih menjadi Papipar Kalteng dan mewakili Kalteng. Tapi, yang lebih penting dilakukan sekarang berusaha memberikan yang terbaik untuk Palangka Raya, agar bisa menjadi terbaik dari yang terbaik. Meski saat penampilan bulu burung Tingang dari Andi sempat terjatuh, tidak mengurangi semangatnya menari, seolah tidak terjadi.
Elvina dan Randy, peserta dari Murung Raya mengungkapkan, persiapan dilakukan sangat mepet. Lantaran terpisah tempat tinggal satu kuliah di Palangka Raya dan satu kerja di Puruk Cahu, jadi latihannya selama di Palangka Raya sekitar satu minggu.
Meski demikian, ada satu hal bisa membuat mereka mendapatkan chemistry, kekompakan dalam hal menari. Pasangan ini mampu tampil begitu sempurna. Keoptimisan yang dimiliki memotivasi tampil pada malam grand final. Mereka berjuang demi mengharumkan nama keluarga dan daerah asalnya. (tabengan)










Wow… cantik banget…
cantiknya…..
sip die…… memang mereka sangat semangat untuk tampil habis2 an dan menambah pengalaman…….namun akan lebih baik , kalau mereka punya ikatan yang betul 2 mamapu merealisasikan janji2 mereka , saat lomba dan disaat tidak lomba . Untuk serius berbakti pada daerah bukan hanya saat lomba, dan action di atas panggung, sehingga yang namanya Putra Putri itu sesuai dengan namanya .
Generasi muda . mereka harus sering turun kebawah kepada masyrakat yang sifatnya membumi, tidak harus tinggi, tapi yang memang otaknya cemerlang yg bisa berbuat sesuatu yg bermanfaat.Mungkin leawt Bapora.
Sehingga itu betul2 putra putri yg sebenarnya…..siapapun bisa, tidak pake persyratan , sehingga kalu tidak tinggi apakah bukan Putraputri Kalteng?
Mungkin perlu ada dibuat program yang lain yg lebih membumi sebgai tambahan yang sama2 diperhatikan pemerintah.
Tukaran Link Ya……………
Link Anda sudah saya pasang di blog saya(Daftar Link Teman)
Link Back ya………..
Makasih……………..
http://umpukakahsig.blogspot.com/
Aq seneng bgt ngliat’a cantik2 n pinter2,, pa lg daerah Q Barut bs jd pmenag he,,,,,,,,,
Pengen bgt rsa’a bs ikutan ise mulang buat acra papipar,cz d cini aQ cuma bs juara 2 az heheheh,,,,,,,, succes slalu buat pra finalis,,,,,,,,,,
coba lagi tahun depan siapa tau bisa juara
Moga mereka kelak bisa membawa negeri ini/daerahnya menjadi lebih baik lagi…
Kunjungan
duh cantiknya.. sepertinya keja di dunia pariwisata sangat menyenangkan.
Inner Beauty, Energi Kecantikan Sejati kaum perempuan. thx